Mengharukan! Kisah Anak Pengemis yang Berprestasi

Irhana bersama sang ibu tinggal di gubuk reot. Mereka harus menyingkir jika hujan tiba. Meski demikian, prestasi akademik anak berusia 15 tahun itu cukup baik.


Gubuk itu sudah reot. Tiangnya bahkan tak lagi berdiri sejajar. Atap dari daun rumbia pun sudah tak utuh. Setengahnya sudah rontok akibat lapuk termakan usia.

Dinding dari papan pun tak terpasang rapi. Jarak antar papan merenggang, bercelah seukuran tiga jari. Sehingga, apapun yang dilakukan di dalam gubuk itu dengan mudah terlihat oleh siapapun yang berada di luar.

Di gubuk selebar tiga depa itulah Nurliyah menghabiskan hari-harinya. Perempuan berusia 37 tahun ini sudah hidup 14 tahun di Desa Asan Kumbang, Kecamatan Ulee Glee, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, itu.

Tak ada listrik, begitu juga televisi. Penerangan satu-satunya ketika malam tiba hanyalah lampu minyak biasa. Namun warga miskin itu tetap semangat menjalani hidup. Bersama Irhana, anak semata wayang yang berusia 15 tahun, Nurliyah mencoba untuk tetap tegar.

"Rumah ini dibangun warga 14 tahun lalu. Namun sekarang sudah reot,” kata Irhana dikutipDream dari Atjeh Post, Selasa 23 September 2014.

"Sekarang lagi musim hujan. Jadi kardus itu basah akibat hujan. Biasanya kardus ini mamak gunakan untuk menutup celah dinding jika malam tiba," tambah dia sambil menunjuk tumpukan kardus basah di gubuknya, Senin kemarin.

Di dekat pintu, beberapa helai baju yang dijemur terlihat basah. "Ini juga basah karena hujan semalam. Atap rumah setengah memang sudah jatuh," ujarnya pelan.





Menurut Irhana, rumahnya itu digunakan sebagai kamar tidur, dapur, tempat belajar, sekaligus untuk salat. "Kalau hujan ya bergeser ke sudut lain. Kalau terlalu deras ya tunggu di rumah tetangga atau emperan toko orang," kata siswi SMP Ulee Glee ini.

Biarpun dengan keterbatasan ekonomi, Irhana mengaku tetap bersekolah untuk masa depannya. Dia termasuk siswa berprestasi sehingga mendapat beasiswa pendidikan.

"Mamak biasanya mengemis di jalanan. Sedangkan Bapak tidak tinggal di sini karena sudah lama cerai," katanya.

Irhana berharap Pemerintah Aceh dapat memberikan bantuan rumah layak huni kepada dia dan orangtuanya agar tak lagi basah kuyup saat hujan turun.

Gubernur terharu

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, dan rombongan bertandang ke rumah Irhana pada Senin sore, 22 September 2014. Setiba di sana, raut muka orang nomor satu di Aceh itu tampak sedih. Doto Zaini –sapaan Zaini Abdullah– beberapa kali mengamati gubuk tersebut dari arah dekat. "Ini harus dibantu. Harus," ujarnya berulang-ulang.

Kedatangan Zaini ke Desa Asan Kumbang membuat geger warga. Dalam sekejap rumah Irhana dipenuhi oleh warga. Karena takut rumah tersebut roboh, Doto Zaini memilih berdialog di jalan kampung.

"Mohon dibantu Pak Gubernur. Mamaknya Irhana sedikit stres. Kasihan gadis itu tinggal di gubuk seperti ini," ujar warga desa setempat.

Sedangkan Zaini hanya mengangguk ringan. Sebelum meninggalkan lokasi, Gubernur Zaini juga menyerahkan santunan melalui Irhana. "Tolong diberikan juga beasiswa kepada anak ini," ujarnya lagi kepada beberapa kepala SKPA yang menyertai rombongan.

Sementara itu, Kepala Dinas Cipta Karya Aceh, Hasanuddin, mengatakan akan memprioritaskan bantuan rumah dhuafa untuk Irhana dan orang tuanya pada APBA 2015. "Namun syaratnya harus ada keterangan surat kepemilikan tanah dari desa. Rumah yang akan dibangun bertipe 36," ujarnya.
Sumber: http://bit.ly/1wIfmbq
----------------

 Jaket Kulit



Facebook


Sebarkan :

Facebook Google Twitter LinkedIn

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.

0 Response to "Mengharukan! Kisah Anak Pengemis yang Berprestasi"

Posting Komentar